Psikologi Agama


oleh: hafidzan
Hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggap adikodrati (supranatural) memang memiliki latar belakang sejarah yang sudah lama dan cukup panjang. Para antropolog melihat itu dari sudut pandang kebudayaan. Hasil temuan mereka menunjukkan bahwa pada masyarakat yang masih memiliki kebudayaan asli (primitif) dijumpai adanya pola kebudayaan yang mencerminkan bentuk hubungan masyarakat dengan sesuatu yang mereka anggap adikuasa dan suci. Dengan pula dengan sosiolog yang menggunakan pendekatan sosiologi berpendapat bahwa dalam kehidupan masyarakat primitive juga dijumpai adanya semacam norma yang mengatur kehidupan mereka.Makanya masalah yang menyangkut keyakinan agama tidak mungkin dan terlarang untuk dikajimelalui pendekatan empiris seperti yang berlaku dilingkuan ilmu pengetahuan profane. Perbedaan pendapat yang belatar belakangi perbedaan sudut pandang antara agamawan dan para psikolog agama sempat menunda munculnya psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sehingga psikologi agama sebagai cabang psikologi baru tumbuh sekitar penghujung abad ke-19, setelah sejumlah tulisan dan buku-buku yang menjadi pendukungnya diterbitkan dan beredar.
Di Amerika, psikologi agama dikenal sebagai psikologi pastoral melalui Cristian Sciences digunakan dalam membantu penyembuhan dan perawatan pasien di rumah-rumah sakit. Dalam usianya yang menjelang seabad ini tampaknya psikologi agama kian diterima oleh berbagai kalangan termasuk para agamawan yang semula menggugat keabsahannya sebagai disiplin ilmu yang otonom. Sejalan dengan hal tiu, maka kemajuan dan pengembangan psikologi agama di lapangan dinilai banyak membantu pemahaman terhadap permasalahan keagamaan dalam kaitannya dengan tugas-tugas kependidikan.
A. Psikologi Agama Sebagai Disiplin Ilmu
1. Psikologi Agama dan Cabang Psikologi Agama
Para ilmuwan (Barart) menganggap filsafat sebagai induk dari segala ilmu, sebab filsafat merupakakn tempat berpijak kegiatan keilmuan. Demikian psikkologi termasuk ilmu cabang dari filsafat, dalam kegiatan ini psikologi agama dan psikologi lainnya tergolong disiplin ilmu ranting dari filsafat.Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan fikiran (cognisi), perasaan (emosi), dan kehendak (conasi). Gejala tersebut secara umum memiliki cirri-ciri yang hamper sama pada diri manusia dewasa, normal dan beradab.Manusia yang memiliki hambatan mental (mental handicaped) dengan tingkat Intellegensi Quotion (IQ) secara umum dikenal dengan sebutan abnormal yang negative. Sebaliknya IQ diatas normal yang dikenal dengan manusia cerdas (begaaf dan genius) cenderung disebut abnormal positif, namun dibalik itu ditemui pula manusia yang dianugerahi oleh Yang Maha Kuasa kemampuan inderawi yang istimewa (indera keenam). Psikologi sebagai ilmu terapan (applied science) berkembang sejalan dengan kegunaannya. Dengan demikian psikologi yang diakui sebagai disiplin ilmu yang mandiri sejak tahun 1879 ini ternyata telah memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam memecahkan berbagai problema dan menguak misteri hidup manusia serta mengupayakan peningkatan sumber daya manusia.
2. Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda, psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajarai gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. Selanjutnya, agama juga menyangkut masalah yang berhuungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci. Hal ini pula barangkali yang menyulitkan para ahli untuk memberi definisi yang tepat tentang agama.Harun Nasution merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu Al-Din, Religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (semit) berarti undang-undang atau hokum. Kemudian dalam bahasa arab, Kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (Lati) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama terdiri dari “a=tidak;gam=pergi” mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi turun temurun.
3. Psikologi Agama dan Pendidikan Islam
Pendekatan psikologi agama dalam Islam ternyata telah dilakukan di periode awal perkembangan Islam itu sendiri, fungsi dan peran kedua orang tua sebagai teladan yang terdekat kepada anak telah diakui dalam pendidikan Islam. Tak heran jika Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa keberagamaan anak terpola dari tingkah laku bapaknya, ini sering disebut citra bapak (father image). Diceritakan bahwa al-Aqra’ ibn Habis pernah menyatakan keheranannya terhadap perlakuan Rasullulah SAW kepada
Fathimah puteri beliau, menurut al-Aqra’, ia mempunyai anak sepuluh orang tetapi tidak satupun di antaranya yang pernah ia perlakukan seperti yang diperbuat Rasul Allah kepada Fathimah, yaitu mencium puteri beliau dengan penuh kasih saying. Pernyataan al-Aqra’ ibn Habis dijawab Rasullulah SAW, bahwa Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hati al-Aqra’. Bahkan Rasullulah SAW, menyatakan: “Siapa yang tidak memiliki rasa kasih saying, maka tidak akan memperoleh kasih saying”. Bahkan menurut anjuran beliau: “Orang yang penuh kasih saying akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena itu sayangilah segala yang ada dibumi maka yang dilangit (Allah) akan menyayangimu”.
B. Perkembangan Psikologi Agama
1. Sejarah Perkembangan Psikologi Agama
Permasalahn yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama-agama. Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putera raja Kapilawastu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa menunjukkan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman kegamaann yang mempengaruhii diri tikih agama Budha ini. Sidharta Gautama mengalami konversi agama, dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Ia kemudian dikenal Badha Gautama.Proses yang hamper serupa dilukiskan pula dalam Al-Qur’an tentang cara Ibrahim as, memimpin ummatnya untuk bertauhid kepada Allah. (QS 6:76-78). Hal ini juga dapat dijumpai dalam pendewasaan bangsa Jepang terhadap Kaisar mereka, Mitos agama Shinto yang menempatkan Kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari (Amiterasu Omi Kami) telah pula mempengaruhi sikap keberagamaan yang khas pada bangsa Jepang.
2. Psikologi Agama Dalam Islam
Secara terminologis memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literature Barat. Manusia menurut terminology Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Manusia disebut al-basyar berdasarkan endekatan aspek biologisnya. Dari sudut pandang ini manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum, hubungan seksual) dan makhluk generatif (berketurunan). Sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimiliknya manusia disebut al-insan. Kemudian manusia disebut Al- Anas, yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan social yang dilakukan. Tetapi yang jelas unsure-unsur psikis manusia itu menurut konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-nilai agama. Nafs terbagi menjadi, nafs muthmainah, yang memberi ketenangan batin. Nafs ammarah, yang mendorong ketindakan negative. Dan nafs lawwamah yang menyadarkan manusia dari kesalahan hingga timbul penyesalan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: