Benarkah Merokok Itu Haram?


Beberapa hari ini ramai dibicarakan di media masa tentang keinginan kak Seto untuk mengharamkan merokok. Alasannya sederhana. Yaitu dia jengkel melihat anak anak sudah mulai terbiasa merokok. Bahkan di kelas pun anak anak ada ditemukan sedang merokok. Dia berkeinginan, dengan difatwakan bahwa merokok itu haram, maka akan ada kegiatan penghancuran industri rokok di Indonesia. Pada akhirnya, rokok sulit ditemukan dan anak anak pun terselamatkan dari bahaya merokok.

Rupanya keinginan kak Seto ini sudah berbalas, Majelis Ulama Indonesia sudah mulai mendengar seruan kak Seto ini. Rencananya, akhir tahun ini, fatwa merokok haram oleh MUI akan dikumandangkan.

Pertanyaannya, benarkah merokok itu haram? Apa alasan menetapkan bahwa merokok haram?

Di suatu hari, pada sebuah acara TV di pagi hari, kak Seto bertemu dengan salah seorang Ketua MUI. Dalam acara itu dijelaskan, menurut fihak MUI itu merokok itu membuat banyak orang sakit dan bahkan meninggal. Kerugian Negara juga besar. Bahkan katanya mencapai angka triliunan rupiah.

Pertanyaannya, apakah karena banyak membuat orang meninggal dan membuat kerugian negara yang amat besar bisa dijadikan fatwa haram?

Beberapa waktu lalu, di beberapa Negara bagian di Amerika Serikat dibuat larangan bahwa makanan yang digoreng dengan minyak goreng yang mengalami proses hydrogenated dilarang dijual.

Apa sajakah, makanan yang tergolong pada kelompok ini?

Banyak, dan dikenal di negeri kita. Yaitu makanan kelompok cepat saji seperti McDonald, Ketucky Fried Chicken dan kelompok kelompok sejenisnya. Mengapa? Karena minyak goreng yang menjalani proses hydrogenated menjadikan lemaknya jadi jenuh. Nah, ini dia! Rasanya menang renyah dan sangat enak. Harum lagi. Tapi, lemak jenuh ini membuat banyak orang Amerika mengalami stroke. Artinya, banyak orang meninggal dunia dan negara pun banyak dirugikan. Berdasarkan hal ini maka timbul pertanyaan. Kalau alasan karena kesehatan mengapa McDonald dan Kentucky Fried Chiken tidak diharamkan di Indonesia? Mengapa hanya merokok saja yang diharamkan?

Mengharamkan sesuatu yang halal memang salah. Blunder ini pernah terjadi di masa lalu. Yaitu di masa pemerintahan Gus Dur.

Ceritanya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Majelis Ulama Indonesia yang berlokasi di IPB Bogor menemukan proses pembuatan Ajinomoto dilakukan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Kali ini Perusahaan itu menternakkan ragi pembuat Ajinomoto dengan cara, saat masih bayi, si ragi ini ditempatkan di dalam enzim pankreas babi. Nah, setelah beberapa hari dan sudah dianggap dewasa, jasad renik ini dipindahkan, dan ditempatkan dalam tetes tebu (ampas gula). Si jasad renik ini menghasilkan zat yang menjadi penyedap makanan. Haramkah penyedap makanan ini?

Menurut Majelis Ulama, penyedap makanan ini haram, karena ada babinya. Benarkah? Logikanya tidak. Sebab ini seperti anak ayam berumur satu hari (day old chiken) dikasih makanan babi. Setelah besar dikasih katul. Nah, ayam yang makanannya katul menghasilkan telor. Haramkah telornya? Kalau mengikuti analogi penyedap makanan, maka telor ini haram.

Tapi satu hal sampai sekarang Majelis Ulama tidak mau mengharamkan yaitu pada tape ketan. Tape ini, kalau sudah berumur seminggu, sudah menghasilkan banyak air yang kalau diminum akan berasa hangat di tenggorokan. Ini artinya, alkoholnya sudah tinggi. Beberapa jenis buah durian juga mengandung alkohol tinggi. Tapi tetap dikatakan halal. Tape ketan dan duren yang mengandung alkohol, jelas memabukkan. Sayangnya MUI tetap pada pendirian bahwa tape ketan dan beberapa jenis durian halal. Padahal sudah jelas dalam Al Qur’an bahwa makanan yang memabukkan adalah haram.
Kembali ke fatwa merokok haram. Berdasarkan kisah tadi maka sudah jelas bahwa ada beberapa kelompok yang ingin memanfaatkan kurangnya kefahaman teknologi dari para ulama di Majelis Ulama Indonesia untuk kepentingan sendiri agar keinginannya dipenuhi. Ini sangat perlu disesalkan. Sebab, hal ini akan mendorong Majelis Ulama Indonesia menfatwakan haram kepada sesuatu yang halal. Oleh karena itu, mudah mudahan MUI berpikiran jernih. Tidak melakukan keputusan yang blunder.

Sumber: Kompas

  1. Ulasan yang lumayan bagus, tapi cik merokok tak?

  2. Artikel yang lumayan bagus, tapi cik aph merokok atawa tidak ???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: