Kenakalan Pelajar Ancaman Pendidikan Ataukah Trendy???


Wacana diatas tepat bila kita sebut sebuah propaganda positif sebagai sebuah bentuk memerangi budaya konsumtif yang terus menerus menyerang para pelajar, wacana ini dibangun agar pelajar Bangsa ini tidak terjerumus kedalam dunia hitam milik para iblis-iblis. Mulai dari kota-kota besar sampai kepelosok-pelosok penyakit ini menyebar dengan cepatnya, perlu kita pahami bahwa prilaku pelajar sangatlah rentan terhadap pengaruh social disatu pihak mereka mempunyai keinginan kuat untuk melakukan interaksi social agar kepercayaan dari lingkungannya mampu didapatkan dengan baik, satu sisi mereka memikirkan kemandirian terlepas dari pengawasan orang tua dan lingkungan sekolahnya.

Akibat dari kurang mantapnya pembinaan mental spiritual membuat tidak sedikit dari pelajar bangsa ini hanyut dibuai oleh kesenangan sesaat, mereka mulai dengan sikap mereka sendiri yang mereka anggap lebih baik dari pada mendengarkan ocehan dari orang-orang yang menginginkan prilaku mereka lebih positif. Mereka lebih senang mengadopsi nilai-nilai negatife dan mengakses nilai-nilai negative tersebut dengan gampangnya…….!! Bolos sekolah, tawuran, melakukan hal-hal anarkis di jalanan, bahkan mengkonsumsi NARKOTIKA (NAPZA) sekalipun ini sepertinya sudah menjadi budaya bagi mereka, masyarakat hanya mampu melihat dengan sikap apatis tanpa mau tahu problematika yang sedang menyelimuti agent pembaharu (pelajar) bangsa ini secara positif. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan ketika pelajar dibiarkan terus menerus dengan gaya mereka sendiri maka ini akan menjadi sangat ironis dalam dunia pendidikan, karena dunia pendidikan dilahirkan untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berwawasan intelektual dan memiliki mental spiritual yang sehat. Jangan sampai para generasi ini menjadi sampah-sampah busuk yang selalu dicerca karena tidak akan pernah sempurna dunia pendidikan apabila masyarakat tidak pro-aktif dalam upaya membangun mental mereka, karena hal tersebut tidak dapat lepas dari control social.

Ntah apa yang menjadikan mereka kehilangan arah sehingga mereka tidak memahami esensi mereka sebagai seorang pelajar, apakah salah pola pendidikan? Ataukah metode pembelajaran? Atau mungkin mereka menganggap itu adalah trend modernisasi?…. tentunya jawaban yang muncul akan beragam dan semua jawaban atas pertanyaan itupun akan menjadi sebuah ke-egoisme-an karena masing-masing jawaban akan berargumentasi diatasan pembenaran….!!!

Renungkan……!!
Kita selalu menuntut mereka harus mampu mempertimbangkan pengaruh perubahan dalam prilaku social, termasuk pengaruh kelompok sebaya mereka. Tetapi mampukah pelajar kita melakukan semua itu sesuai dengan harapan semua masyarakat tanpa bimbingan dan control social yang positif dari lingkungan masyarakat itu sendiri????
Tentu saja jawabnya TIDAK……. Orang tua dalam lingkungan keluarga harus berperan secara aktif dalam melakukan sosialisasi terhadap pembinaan mental spiritual kepada anak-anak mereka, bukan malah bersikap otoriter, permisif (tidak pernah melarang, terlalu memanjakan anak), tetapi orang tua haruslah bersikap demokratis sehingga anak akan memiliki kondisi mental yang sehat. Begitu juga dengan control social yang dilakukan oleh masyarakat disekelilingnya haruslah membangun nilai-nilai religious, serta menciptakan mental yang sehat.

Dalam lingkungan sekolahpun para pelajar harus diberikan pembinaan mental spiritual yang baik, bagaimana sebaik mungkin pihak sekolah menstimulasi pola fikir mereka kearah yang lebih positif, dalam hal ini guru wali kelas dan guru bimbingan konseling sangat berarti untuk mewujudkan perubahan positif tersebut…… apabila guru pembimbing tidak menjadi konselor yang baik maka harapanpun tidak akan menjadi baik. Oleh sebab itu dalam upaya mengoptimalkan perubahan mental spiritual mereka diharapkan sekolah mampu melakukan beberapa hal seperti:

1. Bersedia mendengarkan keluhan pelajar (siswa) secara individual.
2. Mampu membaca kondisi batin siswa (bukan berarti harus menjadi paranormal )
3. Menunjukkan prilaku yang positif, Karena guru (tenaga pendidik) adalah figure yang nantinya akan dicontoh oleh para pelajar
4. Menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang baik.
5. Memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengaktualisasikan diri
6. Membangun komunikasi positif kepada siswa (pelajar)
7. Mampu menjadi teman bagi mereka

Sehingga nantinya akan terciptalah kondisi yang baik terhadap mental spiritual yang positif, karena akhlak bukanlah bawaan sejak lahir tetapi lebih didominasi oleh aktifitas dari hari ke hari.

hafidzan/bkl

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: